
MALRA | Lintas-Pulau.com : Di sudut Papua Tengah, tepatnya di Kabupaten Mimika (Timika), langkah hidup membawa Nerius Rahabav jauh dari tanah kelahirannya di Kei. Namun bagi dirinya, jarak hanyalah batas geografis, bukan batas rasa.
Sebagai anak Kei, ia memikul nilai yang tak lekang oleh waktu: Ain Ni Ain, sebuah falsafah hidup yang menautkan setiap hati dalam satu ikatan persaudaraan.
Nilai itu bukan sekadar warisan budaya, melainkan napas yang menghidupkan kepedulian. “Ain Ni Sus it Besa dit Sus” yang artinya satu orang susah, semua turut merasakan ini bukan hanya kalimat, tetapi panggilan jiwa.
Dalam makna yang lebih luas, ia sejalan dengan ungkapan orang Maluku, “Ale Rasa Beta Rasa”, yang mengajarkan bahwa penderitaan satu adalah penderitaan bersama.
Ketika kabar konflik yang memaksa warga Ohoi Danar mengungsi sampai ke telinganya, hati Nerius seakan tersentak. Jarak Timika ke Maluku Tenggara terasa begitu dekat dalam rasa. Ia tidak melihat peristiwa itu sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai luka yang juga ia rasakan.
Pada Selasa (31/3/2026), Nerius Rahabav, yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tualnews.com, menyalurkan bantuan berupa pakaian layak pakai kepada warga Muslim yang kini berada di pengungsian.
Bantuan tersebut diterima oleh keluarga besar Islam Danar, dalam suasana yang sarat emosi, haru, syukur, dan rasa kebersamaan yang tak terucapkan.
Aksi itu mungkin sederhana, namun maknanya melampaui bentuk fisik bantuan. Ia menjadi simbol bahwa persaudaraan orang Kei tidak pernah terputus, meski dipisahkan lautan dan daratan yang luas. Dari Timika, sebuah pesan dikirim: kemanusiaan tidak mengenal batas.
“Ini bukan soal dekat atau jauh, tapi soal rasa kemanusiaan dan persaudaraan,” menjadi inti dari tindakan tersebut, sebuah pengingat bahwa empati tidak membutuhkan kedekatan fisik, melainkan kepekaan hati.
Di tengah situasi yang masih rentan, Nerius juga menyampaikan pesan yang lebih dalam. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Kota Tual dan Maluku Tenggara, untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Ia mengingatkan agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama di masa-masa penuh ketegangan.
Menurutnya, konflik yang terjadi harus menjadi titik akhir, bukan awal dari perpecahan baru. Ia menegaskan bahwa kekerasan dan upaya memecah belah bertentangan dengan nilai luhur yang dijunjung tinggi, baik itu Pancasila, hukum adat Larwul Ngabal, maupun falsafah hidup masyarakat Kei, Ain Ni Ain.
“Jangan mau diadu domba dan dibodohi oleh para provokator yang ingin merusak persatuan yang sudah kita jaga selama ini,” pesannya, tegas namun sarat kepedulian.
Apa yang dilakukan Nerius Rahabav bukan sekadar aksi sosial. Ia adalah cerminan dari nilai yang hidup dan terus diwariskan, bahwa di tengah ujian, persaudaraan harus menjadi pegangan.
Dari Timika untuk Kei, yang dikirim bukan hanya bantuan, melainkan juga rasa, harapan, dan pengingat bahwa, kemanusiaan harus selalu menjadi yang utama. Dan selama Ain Ni Ain masih dipegang teguh, persatuan itu akan tetap berdiri, tak tergoyahkan oleh jarak maupun cobaan.